Pada jaman dahulu, di Bali, hiduplah sepasang suami istri yang sangat kaya raya. Akan tetapi mereka belum dikaruniani anak. Untuk itu, pergilah mereka ke pura untuk sembahyang dan memohon kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniani seorang anak. Mereka melalukan sembahyang setiap hari tanpa hentinya.
Setelah sekian lama waktu berlalu, si istri mulai mengandung. Suami istri itu pun merasa bahagia dan tak lupa mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Akhirnya, setelah sembilan bulan lamanya mengandung, lahirlah seorang bayi laki-laki.
Waktu pun berlalu. Sang istri mulai mengandung. Betapa bahagianya mereka. Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi laki-laki.
Ternyata yang lahir bukanlah bayi biasa. Ketika masih bayi pun ia sudah bisa makan makanan orang dewasa. Setiap hari anak itu makan makin banyak dan makin banyak.
Anak itu tumbuh menjadi orang dewasa yang tinggi besar. Karena itu ia dipanggil dengan nama Kebo Iwa, yang artinya paman kerbau.
Kebo Iwa makan dan makan terus dengan rakus. Lama-lama habislah harta orang tuanya untuk memenuhi selera makannya. Mereka pun tak lagi sanggup memberi makan anaknya.
Dengan berat hati mereka meminta bantuan desa. Sejak itulah segala kebutuhan makan Kebo Iwa ditanggung desa. Penduduk desa kemudian membangun rumah yang sangat besar untuk Kebo Iwa. Mereka pun memasak makanan yang sangat banyak untuknya. Tapi lama-lama penduduk merasa tidak sanggup untuk menyediakan makanan. Kemudian mereka meminta Kebo Iwa untuk memasak sendiri. Mereka cuma menyediakan bahan mentahnya.
Kebo Iwa memang serba besar. Jangkauan kakinya sangat lebar, sehingga ia dapat bepergian dengan cepat. Kalau ia ingin minum, Kebo Iwa tinggal menusukkan telunjuknya ke tanah. Sehingga terjadilah sumur kecil yang mengeluarkan air.
Karena kehebatannya, Kebo Iwa dapat menahan serbuan pasukan Majapahit yang hendak menaklukkan Bali. Maha Patih Majapahit pun mengatur siasat. Ia mengundang Kebo Iwa ke Majapahit. Ia kemudian meminta Kebo Iwa membuatkan beberapa sumur, karena kerajaan itu kekuarangan air minum.
Kebo Iwa menyanggupi tanpa curiga. Setibanya di Majapahit, ia menggali banyak sumur. Sungguh pekerjaan yang berat, karena ia harus menggali dalam sekali. Ketika Kebo Iwa sedang bekerja di dasar sumur, Sang Patih memerintahkan pasukannya menimbuni Kebo Iwa dengan kapur. Kebo Iwa sesak napasnya. Kemudian ia pun meninggal di dasar sumur.
Dengan meninggalnya Kebo Iwa, Bali pun dapat ditaklukkan Majapahit. Berakhirlah riwayat orang besar yang berjasa pada Pulau Bali.
sumber:ceritaanak.tk
Kadek Merta blog
Forum Diskusi Dan Informasi Seputar Artikel Tentang Bali.
Senin, 29 November 2010
ASAL MULA SELAT BALI
Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran.
Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, "Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau mernberi sedikit hartanya."
Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.
Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.
Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, "Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma."
Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.
Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.
"Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini," katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.
Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.
Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.
Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, "Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma."
Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.
Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.
"Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini," katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.
Kumpulan Kata-Kata Mutiara
Tiada jalan lain untuk mengenali Tuhan selain dari mengenal diri sendiri terlebih dahulu. - Sri Sathya Sai Baba
Tahun menjadi baru, hari menjadi suci, yaitu ketika engkau mensucikannya dengan melalui disiplin spiritual dan bukan yang lainnya. - Sri Sathya Sai Baba
Hanya ada satu teman sejati yang senantiasa bersamamu, di dalam dirimu dan di sekitarmu. Dan Dia adalah Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Semua kehidupan adalah sama adanya, oleh sebab itu, wahai Anak-Ku, perlakukanlah setiap orang secara sama rata. - Sri Sathya Sai Baba
Di dunia ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh ucapan-ucapan yang kasar. - Sri Sathya Sai Baba
Uang datang dan pergi; tetapi apabila engkau memupuk moralitas, maka nilai-nilai tersebut akan tetap tertanam di dalam dirimu. - Sri Sathya Sai Baba
Apabila engkau menerima umpatan/kata-kata yang kasar dari orang lain, maka janganlah engkau berperilaku yang sama terhadap orang tersebut; melainkan berbicaralah secara lembut dan penuh cinta-kasih. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau tidak perlu mencari-cari ketenaran maupun penghormatan dari orang lain; yang jauh lebih penting adalah lakukanlah upaya untuk memenangkan rahmat dari Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau mungkin saja merasa jenuh bila terus-menerus meminum nectar; tetapi tidaklah demikian halnya bila menyangkut cinta-kasih. - Sri Sathya Sai Baba
Tuhan akan senantiasa mengamati aktivitas-aktivitas manusia bahkan yang terkecil sekalipun untuk menemukan ada/tidaknya jejak-jejak cinta-kasih. - Sri Sathya Sai Baba
Sekali engkau merasakan kebahagiaan Ilahi, maka batinmu tidak akan pernah lagi mencari-cari kenikmatan duniawi. - Sri Sathya Sai Baba
Sekali engkau menyadari bahwa dirimu adalah satu bersama-sama dengan Tuhan, maka engkau tidak akan pernah terpisah lagi (dari-Nya). - Sri Sathya Sai Baba
Do good, see good, be good - inilah jalan untuk menuju kepada Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau tidak akan pernah gagal dalam kehidupanmu ini jikalau saja engkau mempunyai cinta-kasih terhadap Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Badan fisik ini akan tampil menawan jikalau karakter kita bagus; pelayanan kepada sesama serta ibadah kepada Tuhan akan memelihara pesonanya. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau akan dapat memurnikan tutur-katamu dengan mengucapkan kebenaran, mengikuti ajaran Dharma serta memupuk cinta-kasih dan kedamaian. - Sri Sathya Sai Baba
Apabila engkau memahami bahwa Aham (I/aku), mind dan ucapanmu adalah merupakan bagian dari Divine family dan engkau juga bertindak sebagamana mestinya, maka dengan demikian, kehidupanmu akan disucikan. - Sri Sathya Sai Baba
Batin yang tenteram akan menghasilkan badan yang sehat; sebaliknya badan yang sehat juga akan menghasilkan batin yang damai. - Sri Sathya Sai Baba
Oleh karena manusia telah melupakan hubungannya dengan Tuhan, maka itulah sebabnya mengapa ia dihantui oleh ketakutan dan terjerat dalam kegelisahan berkepanjangan. - Sri Sathya Sai Baba
Cinta-kasih senantiasa memberi dan memaafkan. Sedangkan diri (ego) senantiasa menerima dan melupakan (jasa baik orang lain). - Sri Sathya Sai Baba
Young men's knocks old men feel. - Proverb, (english)
You have to stay in shape. My grandmother, she started walking five miles a day when she was 60. She's 97 today and we don't know where the hell she is. - Ellen Degeneres
Trying is a part of failing. If you are afraid to fail then you're afraid to try. - Mrs. Cunningham
The darkest hour of a man's life is when he sits down to plan how to get money without earning it. - Horace Greeley
A restive morsel needs a spur of wine. - Proverb, (french)
Whatever is worth doing at all, is worth doing well. - Lord Chesterfield
The most thoroughly wasted of all days is that on which one has not laughed. - Nicolas Chamfort
A blow with a reed makes a noise but hurts not. - Proverb, (spanish)
Count your blessings. - Proverb, (german)
In the looking-glass we see our form, in wine the heart. - Proverb, (german)
A hug a day keeps the demons at bay. - Proverb, (german)
A man he seems of cheerful yesterdays, And confident to-morrows. - William Wordsworth, The Excursion
Be this our wall of brass, to be conscious of having done no evil, and to grow pale at no accusation. - Proverb
Too late is tomorrow's life; live for today. - Martial
And now am I, if a man should speak truly, little better than one of the wicked. -King Henry IV. Part I. Act i. Sc. 2. - William Shakespeare
On a fool's beard all learn to shave. - Proverb, (portuguese, Spanish)
Every Communist must grasp the truth: "Political power grows out of the barrel of a gun.". - Mao Tse-tung
We cannot really love anybody with whom we never laugh. - Mary Roberts Rhinehart
The lazy man who goes to borrow a spade says, "I hope I will not find one." - Proverb, (madagasy)
Better one living word than a hundred dead ones. - Proverb, (german)
Tahun menjadi baru, hari menjadi suci, yaitu ketika engkau mensucikannya dengan melalui disiplin spiritual dan bukan yang lainnya. - Sri Sathya Sai Baba
Hanya ada satu teman sejati yang senantiasa bersamamu, di dalam dirimu dan di sekitarmu. Dan Dia adalah Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Semua kehidupan adalah sama adanya, oleh sebab itu, wahai Anak-Ku, perlakukanlah setiap orang secara sama rata. - Sri Sathya Sai Baba
Di dunia ini tidak ada obat yang bisa menyembuhkan rasa sakit yang ditimbulkan oleh ucapan-ucapan yang kasar. - Sri Sathya Sai Baba
Uang datang dan pergi; tetapi apabila engkau memupuk moralitas, maka nilai-nilai tersebut akan tetap tertanam di dalam dirimu. - Sri Sathya Sai Baba
Apabila engkau menerima umpatan/kata-kata yang kasar dari orang lain, maka janganlah engkau berperilaku yang sama terhadap orang tersebut; melainkan berbicaralah secara lembut dan penuh cinta-kasih. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau tidak perlu mencari-cari ketenaran maupun penghormatan dari orang lain; yang jauh lebih penting adalah lakukanlah upaya untuk memenangkan rahmat dari Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau mungkin saja merasa jenuh bila terus-menerus meminum nectar; tetapi tidaklah demikian halnya bila menyangkut cinta-kasih. - Sri Sathya Sai Baba
Tuhan akan senantiasa mengamati aktivitas-aktivitas manusia bahkan yang terkecil sekalipun untuk menemukan ada/tidaknya jejak-jejak cinta-kasih. - Sri Sathya Sai Baba
Sekali engkau merasakan kebahagiaan Ilahi, maka batinmu tidak akan pernah lagi mencari-cari kenikmatan duniawi. - Sri Sathya Sai Baba
Sekali engkau menyadari bahwa dirimu adalah satu bersama-sama dengan Tuhan, maka engkau tidak akan pernah terpisah lagi (dari-Nya). - Sri Sathya Sai Baba
Do good, see good, be good - inilah jalan untuk menuju kepada Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau tidak akan pernah gagal dalam kehidupanmu ini jikalau saja engkau mempunyai cinta-kasih terhadap Tuhan. - Sri Sathya Sai Baba
Badan fisik ini akan tampil menawan jikalau karakter kita bagus; pelayanan kepada sesama serta ibadah kepada Tuhan akan memelihara pesonanya. - Sri Sathya Sai Baba
Engkau akan dapat memurnikan tutur-katamu dengan mengucapkan kebenaran, mengikuti ajaran Dharma serta memupuk cinta-kasih dan kedamaian. - Sri Sathya Sai Baba
Apabila engkau memahami bahwa Aham (I/aku), mind dan ucapanmu adalah merupakan bagian dari Divine family dan engkau juga bertindak sebagamana mestinya, maka dengan demikian, kehidupanmu akan disucikan. - Sri Sathya Sai Baba
Batin yang tenteram akan menghasilkan badan yang sehat; sebaliknya badan yang sehat juga akan menghasilkan batin yang damai. - Sri Sathya Sai Baba
Oleh karena manusia telah melupakan hubungannya dengan Tuhan, maka itulah sebabnya mengapa ia dihantui oleh ketakutan dan terjerat dalam kegelisahan berkepanjangan. - Sri Sathya Sai Baba
Cinta-kasih senantiasa memberi dan memaafkan. Sedangkan diri (ego) senantiasa menerima dan melupakan (jasa baik orang lain). - Sri Sathya Sai Baba
Young men's knocks old men feel. - Proverb, (english)
You have to stay in shape. My grandmother, she started walking five miles a day when she was 60. She's 97 today and we don't know where the hell she is. - Ellen Degeneres
Trying is a part of failing. If you are afraid to fail then you're afraid to try. - Mrs. Cunningham
The darkest hour of a man's life is when he sits down to plan how to get money without earning it. - Horace Greeley
A restive morsel needs a spur of wine. - Proverb, (french)
Whatever is worth doing at all, is worth doing well. - Lord Chesterfield
The most thoroughly wasted of all days is that on which one has not laughed. - Nicolas Chamfort
A blow with a reed makes a noise but hurts not. - Proverb, (spanish)
Count your blessings. - Proverb, (german)
In the looking-glass we see our form, in wine the heart. - Proverb, (german)
A hug a day keeps the demons at bay. - Proverb, (german)
A man he seems of cheerful yesterdays, And confident to-morrows. - William Wordsworth, The Excursion
Be this our wall of brass, to be conscious of having done no evil, and to grow pale at no accusation. - Proverb
Too late is tomorrow's life; live for today. - Martial
And now am I, if a man should speak truly, little better than one of the wicked. -King Henry IV. Part I. Act i. Sc. 2. - William Shakespeare
On a fool's beard all learn to shave. - Proverb, (portuguese, Spanish)
Every Communist must grasp the truth: "Political power grows out of the barrel of a gun.". - Mao Tse-tung
We cannot really love anybody with whom we never laugh. - Mary Roberts Rhinehart
The lazy man who goes to borrow a spade says, "I hope I will not find one." - Proverb, (madagasy)
Better one living word than a hundred dead ones. - Proverb, (german)
Peranan Guru Spiritual
Guru spiritual mendapat tempat tersendiri dalam tradisi Jawa. Para
guru ini umumnya mereka sudah berusia lanjut, hingga layak mendapat sebutan “orang tua”. Karena itu ilmu yang diajarkan biasanya juga disebut “ilmu tua”, yang artinya ilmu spiritual, yang hanya bisa diberikan kepada mereka yang “cukup umur”. Tentang batasan umur bagi siswa ini ada bermacam-macam, sementara guru bahkan ada yang hanya mau menerima siswa yang sudah pernah “mantu” atau mengawinkan anaknya. Kalau belum masih dianggap terlalu muda dan belum layak mendapat ilmu. Sebenarnya hal yang sama juga berlaku di Bali. Ilmu hanya boleh diajarkan oleh sang “guru”, sedang siswa tidak. Karena itu awalnya jarang ada ilmu “kejawen” bersifat terbuka bisa dipelajari oleh siapa saja. Penerimaan siswa amat selektif. Bila itu terjadi di Jawa tentunya bisa dimaklumi, mungkin karena lingkungannya mengharuskan demikian. tetapi kalau hal yang sama terjadi di Bali, tentunya akan menjadi pertanyaan.
Sikap siswa terhadap guru, umumnya hanya sebatas rasa hormat, dengan menganggapnya sebagai orang suci. Penghargaan yang bersifat materi (Reshi Yadnya) tidak seberapa dan bahkan tidak ada. Guru umumnya benar-benar sepi pamrih. Umumnya orang berpendapat semakin tanpa pamrih nama guru tersebut akan menjadi semakin terkenal dan dihormati. Situasi lingkungan rupanya telah menyebabkan para guru “kebatinan” tersebut, banyak yang tidak mau menunjukkan identitas agamanya secara jelas. Berbagai aturan yang dibuat mengindikasikan bahwa para guru tersebut jauh dari rasa bebas dalam menyampaikan ajarannya. Misalnya mengajarnya di tempat sepi, yang jauh dari keramaian, siswa harus merahasiakan nama gurunya, dilarang membicarakan hal-hal yang diajarkan kecuali dengan sesama siswa, dll. Karena aturan yang begitu ketat, maka para siswa umumnya pun sangat tertutup, bahkan pantang menyebut nama sang guru. Yang terakhir ini juga terjadi di Bali. Hubungan antar sesama siswa sangat akrab. Mereka disumpah untuk menjadi “saudara seperguruan”, yang diistilahkan “sedulur tunggal banyu”, yang artinya “saudara seair”. Mungkin penamaan itu diberikan karena pengangkatannya sebagai saudara seperguruan dilaksanakan dengan upacara “pemercikan air”. Ajaran yang disampaikan oleh para guru itu sebenarnya ajaran biasa, misalnya tentang “sangkan paraning dumadi”, “manunggaling kawula gusti” dan sejenisnya, yang tak jauh berbeda dengan dasar-dasar ajaran Hindu, Ajaran etika menempati tempat yang pokok, berupa berbagai anjuran dan larangan yang bersifat khusus. Anjuran dan larangan itu merupakan hal yang wajib dilaksanakan tanpa harus mengetahui apa alasannya. Hal inilah yang membuat moral dan perilaku para penganut kejawen umumnya selalu terjaga. Biasanya kegiatan belajar ditutup dengan pelajaran “samadhi”, dalam sebuah upacara khusus, yang terkesan sakral dan amat tertutup. Hal ini dilaksanakan setelah siswa mendapat “wejangan” mantra-mantra khusus, yang hanya diberikan setelah melaksanakan “laku” (brata) tertentu. Laku (brata) ini ada bermacam-macam, antara lain: puasa, mutih, tidak tidur (jagra), berpantang seks dan lain-lainnya. Sifat tertutup ini membuat mereka sering mendapat sebutan dukun “klenik”, yang dicurigai dan divonis sebagai pengajar ilmu sesat. Tudingan bahwa mereka adalah kaum sinkretis, yang suka meramu ajaran berbagai agama mungkin ada benarnya, sebab mereka umumnya mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran Hindu dan melaksanakan berbagai upacara yang bernafas Hindu tetapi tak jarang doa-doanya dalam bahasa Arab dan Jawa.
Guru spiritual mendapat tempat tersendiri dalam tradisi Jawa. Para
guru ini umumnya mereka sudah berusia lanjut, hingga layak mendapat sebutan “orang tua”. Karena itu ilmu yang diajarkan biasanya juga disebut “ilmu tua”, yang artinya ilmu spiritual, yang hanya bisa diberikan kepada mereka yang “cukup umur”. Tentang batasan umur bagi siswa ini ada bermacam-macam, sementara guru bahkan ada yang hanya mau menerima siswa yang sudah pernah “mantu” atau mengawinkan anaknya. Kalau belum masih dianggap terlalu muda dan belum layak mendapat ilmu. Sebenarnya hal yang sama juga berlaku di Bali. Ilmu hanya boleh diajarkan oleh sang “guru”, sedang siswa tidak. Karena itu awalnya jarang ada ilmu “kejawen” bersifat terbuka bisa dipelajari oleh siapa saja. Penerimaan siswa amat selektif. Bila itu terjadi di Jawa tentunya bisa dimaklumi, mungkin karena lingkungannya mengharuskan demikian. tetapi kalau hal yang sama terjadi di Bali, tentunya akan menjadi pertanyaan.
Sikap siswa terhadap guru, umumnya hanya sebatas rasa hormat, dengan menganggapnya sebagai orang suci. Penghargaan yang bersifat materi (Reshi Yadnya) tidak seberapa dan bahkan tidak ada. Guru umumnya benar-benar sepi pamrih. Umumnya orang berpendapat semakin tanpa pamrih nama guru tersebut akan menjadi semakin terkenal dan dihormati. Situasi lingkungan rupanya telah menyebabkan para guru “kebatinan” tersebut, banyak yang tidak mau menunjukkan identitas agamanya secara jelas. Berbagai aturan yang dibuat mengindikasikan bahwa para guru tersebut jauh dari rasa bebas dalam menyampaikan ajarannya. Misalnya mengajarnya di tempat sepi, yang jauh dari keramaian, siswa harus merahasiakan nama gurunya, dilarang membicarakan hal-hal yang diajarkan kecuali dengan sesama siswa, dll. Karena aturan yang begitu ketat, maka para siswa umumnya pun sangat tertutup, bahkan pantang menyebut nama sang guru. Yang terakhir ini juga terjadi di Bali. Hubungan antar sesama siswa sangat akrab. Mereka disumpah untuk menjadi “saudara seperguruan”, yang diistilahkan “sedulur tunggal banyu”, yang artinya “saudara seair”. Mungkin penamaan itu diberikan karena pengangkatannya sebagai saudara seperguruan dilaksanakan dengan upacara “pemercikan air”. Ajaran yang disampaikan oleh para guru itu sebenarnya ajaran biasa, misalnya tentang “sangkan paraning dumadi”, “manunggaling kawula gusti” dan sejenisnya, yang tak jauh berbeda dengan dasar-dasar ajaran Hindu, Ajaran etika menempati tempat yang pokok, berupa berbagai anjuran dan larangan yang bersifat khusus. Anjuran dan larangan itu merupakan hal yang wajib dilaksanakan tanpa harus mengetahui apa alasannya. Hal inilah yang membuat moral dan perilaku para penganut kejawen umumnya selalu terjaga. Biasanya kegiatan belajar ditutup dengan pelajaran “samadhi”, dalam sebuah upacara khusus, yang terkesan sakral dan amat tertutup. Hal ini dilaksanakan setelah siswa mendapat “wejangan” mantra-mantra khusus, yang hanya diberikan setelah melaksanakan “laku” (brata) tertentu. Laku (brata) ini ada bermacam-macam, antara lain: puasa, mutih, tidak tidur (jagra), berpantang seks dan lain-lainnya. Sifat tertutup ini membuat mereka sering mendapat sebutan dukun “klenik”, yang dicurigai dan divonis sebagai pengajar ilmu sesat. Tudingan bahwa mereka adalah kaum sinkretis, yang suka meramu ajaran berbagai agama mungkin ada benarnya, sebab mereka umumnya mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran Hindu dan melaksanakan berbagai upacara yang bernafas Hindu tetapi tak jarang doa-doanya dalam bahasa Arab dan Jawa.
sumber: mediahindu.net
guru ini umumnya mereka sudah berusia lanjut, hingga layak mendapat sebutan “orang tua”. Karena itu ilmu yang diajarkan biasanya juga disebut “ilmu tua”, yang artinya ilmu spiritual, yang hanya bisa diberikan kepada mereka yang “cukup umur”. Tentang batasan umur bagi siswa ini ada bermacam-macam, sementara guru bahkan ada yang hanya mau menerima siswa yang sudah pernah “mantu” atau mengawinkan anaknya. Kalau belum masih dianggap terlalu muda dan belum layak mendapat ilmu. Sebenarnya hal yang sama juga berlaku di Bali. Ilmu hanya boleh diajarkan oleh sang “guru”, sedang siswa tidak. Karena itu awalnya jarang ada ilmu “kejawen” bersifat terbuka bisa dipelajari oleh siapa saja. Penerimaan siswa amat selektif. Bila itu terjadi di Jawa tentunya bisa dimaklumi, mungkin karena lingkungannya mengharuskan demikian. tetapi kalau hal yang sama terjadi di Bali, tentunya akan menjadi pertanyaan.
Sikap siswa terhadap guru, umumnya hanya sebatas rasa hormat, dengan menganggapnya sebagai orang suci. Penghargaan yang bersifat materi (Reshi Yadnya) tidak seberapa dan bahkan tidak ada. Guru umumnya benar-benar sepi pamrih. Umumnya orang berpendapat semakin tanpa pamrih nama guru tersebut akan menjadi semakin terkenal dan dihormati. Situasi lingkungan rupanya telah menyebabkan para guru “kebatinan” tersebut, banyak yang tidak mau menunjukkan identitas agamanya secara jelas. Berbagai aturan yang dibuat mengindikasikan bahwa para guru tersebut jauh dari rasa bebas dalam menyampaikan ajarannya. Misalnya mengajarnya di tempat sepi, yang jauh dari keramaian, siswa harus merahasiakan nama gurunya, dilarang membicarakan hal-hal yang diajarkan kecuali dengan sesama siswa, dll. Karena aturan yang begitu ketat, maka para siswa umumnya pun sangat tertutup, bahkan pantang menyebut nama sang guru. Yang terakhir ini juga terjadi di Bali. Hubungan antar sesama siswa sangat akrab. Mereka disumpah untuk menjadi “saudara seperguruan”, yang diistilahkan “sedulur tunggal banyu”, yang artinya “saudara seair”. Mungkin penamaan itu diberikan karena pengangkatannya sebagai saudara seperguruan dilaksanakan dengan upacara “pemercikan air”. Ajaran yang disampaikan oleh para guru itu sebenarnya ajaran biasa, misalnya tentang “sangkan paraning dumadi”, “manunggaling kawula gusti” dan sejenisnya, yang tak jauh berbeda dengan dasar-dasar ajaran Hindu, Ajaran etika menempati tempat yang pokok, berupa berbagai anjuran dan larangan yang bersifat khusus. Anjuran dan larangan itu merupakan hal yang wajib dilaksanakan tanpa harus mengetahui apa alasannya. Hal inilah yang membuat moral dan perilaku para penganut kejawen umumnya selalu terjaga. Biasanya kegiatan belajar ditutup dengan pelajaran “samadhi”, dalam sebuah upacara khusus, yang terkesan sakral dan amat tertutup. Hal ini dilaksanakan setelah siswa mendapat “wejangan” mantra-mantra khusus, yang hanya diberikan setelah melaksanakan “laku” (brata) tertentu. Laku (brata) ini ada bermacam-macam, antara lain: puasa, mutih, tidak tidur (jagra), berpantang seks dan lain-lainnya. Sifat tertutup ini membuat mereka sering mendapat sebutan dukun “klenik”, yang dicurigai dan divonis sebagai pengajar ilmu sesat. Tudingan bahwa mereka adalah kaum sinkretis, yang suka meramu ajaran berbagai agama mungkin ada benarnya, sebab mereka umumnya mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran Hindu dan melaksanakan berbagai upacara yang bernafas Hindu tetapi tak jarang doa-doanya dalam bahasa Arab dan Jawa.
Guru spiritual mendapat tempat tersendiri dalam tradisi Jawa. Para
guru ini umumnya mereka sudah berusia lanjut, hingga layak mendapat sebutan “orang tua”. Karena itu ilmu yang diajarkan biasanya juga disebut “ilmu tua”, yang artinya ilmu spiritual, yang hanya bisa diberikan kepada mereka yang “cukup umur”. Tentang batasan umur bagi siswa ini ada bermacam-macam, sementara guru bahkan ada yang hanya mau menerima siswa yang sudah pernah “mantu” atau mengawinkan anaknya. Kalau belum masih dianggap terlalu muda dan belum layak mendapat ilmu. Sebenarnya hal yang sama juga berlaku di Bali. Ilmu hanya boleh diajarkan oleh sang “guru”, sedang siswa tidak. Karena itu awalnya jarang ada ilmu “kejawen” bersifat terbuka bisa dipelajari oleh siapa saja. Penerimaan siswa amat selektif. Bila itu terjadi di Jawa tentunya bisa dimaklumi, mungkin karena lingkungannya mengharuskan demikian. tetapi kalau hal yang sama terjadi di Bali, tentunya akan menjadi pertanyaan.
Sikap siswa terhadap guru, umumnya hanya sebatas rasa hormat, dengan menganggapnya sebagai orang suci. Penghargaan yang bersifat materi (Reshi Yadnya) tidak seberapa dan bahkan tidak ada. Guru umumnya benar-benar sepi pamrih. Umumnya orang berpendapat semakin tanpa pamrih nama guru tersebut akan menjadi semakin terkenal dan dihormati. Situasi lingkungan rupanya telah menyebabkan para guru “kebatinan” tersebut, banyak yang tidak mau menunjukkan identitas agamanya secara jelas. Berbagai aturan yang dibuat mengindikasikan bahwa para guru tersebut jauh dari rasa bebas dalam menyampaikan ajarannya. Misalnya mengajarnya di tempat sepi, yang jauh dari keramaian, siswa harus merahasiakan nama gurunya, dilarang membicarakan hal-hal yang diajarkan kecuali dengan sesama siswa, dll. Karena aturan yang begitu ketat, maka para siswa umumnya pun sangat tertutup, bahkan pantang menyebut nama sang guru. Yang terakhir ini juga terjadi di Bali. Hubungan antar sesama siswa sangat akrab. Mereka disumpah untuk menjadi “saudara seperguruan”, yang diistilahkan “sedulur tunggal banyu”, yang artinya “saudara seair”. Mungkin penamaan itu diberikan karena pengangkatannya sebagai saudara seperguruan dilaksanakan dengan upacara “pemercikan air”. Ajaran yang disampaikan oleh para guru itu sebenarnya ajaran biasa, misalnya tentang “sangkan paraning dumadi”, “manunggaling kawula gusti” dan sejenisnya, yang tak jauh berbeda dengan dasar-dasar ajaran Hindu, Ajaran etika menempati tempat yang pokok, berupa berbagai anjuran dan larangan yang bersifat khusus. Anjuran dan larangan itu merupakan hal yang wajib dilaksanakan tanpa harus mengetahui apa alasannya. Hal inilah yang membuat moral dan perilaku para penganut kejawen umumnya selalu terjaga. Biasanya kegiatan belajar ditutup dengan pelajaran “samadhi”, dalam sebuah upacara khusus, yang terkesan sakral dan amat tertutup. Hal ini dilaksanakan setelah siswa mendapat “wejangan” mantra-mantra khusus, yang hanya diberikan setelah melaksanakan “laku” (brata) tertentu. Laku (brata) ini ada bermacam-macam, antara lain: puasa, mutih, tidak tidur (jagra), berpantang seks dan lain-lainnya. Sifat tertutup ini membuat mereka sering mendapat sebutan dukun “klenik”, yang dicurigai dan divonis sebagai pengajar ilmu sesat. Tudingan bahwa mereka adalah kaum sinkretis, yang suka meramu ajaran berbagai agama mungkin ada benarnya, sebab mereka umumnya mengajarkan tentang dasar-dasar ajaran Hindu dan melaksanakan berbagai upacara yang bernafas Hindu tetapi tak jarang doa-doanya dalam bahasa Arab dan Jawa.
sumber: mediahindu.net
Penerapan Agama Hindu Di Jaman KALIYUGA
Jaman Kaliyuga adalah jaman dimana keadaan tidak menentu, kacau atau tidak harmonis, bingung, Pada saat yang sama penerapan ajaran agama mendapat porsi yang sangat sedikit, demikian disampaikan oleh Pedanda Gunung dalam ceramahnya di Ruang Serbaguna PT. ISM Bogasari Flour Mills.
Pada Kepustakaan Lontar Rogha Sanghara Bumi pada lampiran I B, dalam terjemahan disebutkan jaman Kaliyuga ditandai dengan peristiwa dimana para DEWA meninggalkan bumi dengan digantikan oleh para BHUTA menguasai bumi ini dan pada saat itu dunia mengalami kerancuan, ketidak harmonisan, malapetaka dan arah yang tidak menentu.
Periode berlangsungnya/Kapan, berapa lama setiap jaman berlangsung? Pembagian jaman secara valid tidak diketahui batasnya dengan pasti. Yang perlu mendapat perhatian dalam kehidupan di dunia ini adalah bahwa kondisi pada pengaruh ke empat jaman terutama jaman Kali senantiasa ada, dan seberapa porsi pengaruh pada diri manusia tergantung pada perilaku manusia itu sendiri karena manusia merupakan pelaku utama terhadap keadaan harmoni maupun disharmoni-pada diri manusia terdapat sifat DEWA maupun KALA .
BHAKTI / Kasih Sayang yang Murni kepada Tuhan (SIWA). Hal ini dapat dilakukan dengan mengucapkan/mengumandangkan nama suci Tuhan antara lain dengan menyebutkan nama aksara sucinya “Om Namah Siwaya” diucapkan melalui lahir bhatin secara berulang - ulang, Rasa Bhakti ini tidak hanya dilakukan ketika berada di Pura, tetapi dapat dilaksanakan pada tempat lainnya setiap saat.
TRESNA : Sikap bersahabat dengan orang lain/Kasih Sayang.
ASIH : Bersikap Welas Asih pada semua makhiuk, hal ini dapat dilakukan dengan cara berperilaku yang baik, bahwa pada prisipwa kita tidak beda dengan yang lainnya . Hal ini ditegaskan dalam Veda yang dinyatakan dalam satu kalimat sutra yaitu ; Wasudewa Kutumbhakam : Semua mahluk berasal dari satu sumber yaitu Tuhan (Vasudeva) ; Semua mahkluk adalah saudara .
Dalam kepustakaan lontar Agastya Parwa disebutkan tiga bentuk prilaku untuk mewujudkan harmoni di jagat raya ini serta jalan menuju nirvana (sorga) antara lain :
TAPA : Melakukan pengendalain diri baik fisik maupun mental.
YAJNA : Melaksanakan Agnihotra yang utama , yaitu pemujaan kehadapan Sanghyang Siwagni (Tuhan Yang Maha Esa)
KERTHI : Melaksanakan pelayanan yang direalisasikan dalam bentuk membangun tempat pengobatan (apotik,kKlinik dan rumah sakit), membangun tempat suci/pura/candi/, tempat peristirahatan, mengeloia tanah dengan baik/bercocok tanam (bertani), mengelola air minum dan kepentingan pengairan(pancuran) dan membuat penyimpanan air, kolam, waduk, bendungan (telaga). AA. Ketut Patera,SE.
sumber: mediahindu.net
Pada Kepustakaan Lontar Rogha Sanghara Bumi pada lampiran I B, dalam terjemahan disebutkan jaman Kaliyuga ditandai dengan peristiwa dimana para DEWA meninggalkan bumi dengan digantikan oleh para BHUTA menguasai bumi ini dan pada saat itu dunia mengalami kerancuan, ketidak harmonisan, malapetaka dan arah yang tidak menentu.
Periode berlangsungnya/Kapan, berapa lama setiap jaman berlangsung? Pembagian jaman secara valid tidak diketahui batasnya dengan pasti. Yang perlu mendapat perhatian dalam kehidupan di dunia ini adalah bahwa kondisi pada pengaruh ke empat jaman terutama jaman Kali senantiasa ada, dan seberapa porsi pengaruh pada diri manusia tergantung pada perilaku manusia itu sendiri karena manusia merupakan pelaku utama terhadap keadaan harmoni maupun disharmoni-pada diri manusia terdapat sifat DEWA maupun KALA .
BHAKTI / Kasih Sayang yang Murni kepada Tuhan (SIWA). Hal ini dapat dilakukan dengan mengucapkan/mengumandangkan nama suci Tuhan antara lain dengan menyebutkan nama aksara sucinya “Om Namah Siwaya” diucapkan melalui lahir bhatin secara berulang - ulang, Rasa Bhakti ini tidak hanya dilakukan ketika berada di Pura, tetapi dapat dilaksanakan pada tempat lainnya setiap saat.
TRESNA : Sikap bersahabat dengan orang lain/Kasih Sayang.
ASIH : Bersikap Welas Asih pada semua makhiuk, hal ini dapat dilakukan dengan cara berperilaku yang baik, bahwa pada prisipwa kita tidak beda dengan yang lainnya . Hal ini ditegaskan dalam Veda yang dinyatakan dalam satu kalimat sutra yaitu ; Wasudewa Kutumbhakam : Semua mahluk berasal dari satu sumber yaitu Tuhan (Vasudeva) ; Semua mahkluk adalah saudara .
Dalam kepustakaan lontar Agastya Parwa disebutkan tiga bentuk prilaku untuk mewujudkan harmoni di jagat raya ini serta jalan menuju nirvana (sorga) antara lain :
TAPA : Melakukan pengendalain diri baik fisik maupun mental.
YAJNA : Melaksanakan Agnihotra yang utama , yaitu pemujaan kehadapan Sanghyang Siwagni (Tuhan Yang Maha Esa)
KERTHI : Melaksanakan pelayanan yang direalisasikan dalam bentuk membangun tempat pengobatan (apotik,kKlinik dan rumah sakit), membangun tempat suci/pura/candi/, tempat peristirahatan, mengeloia tanah dengan baik/bercocok tanam (bertani), mengelola air minum dan kepentingan pengairan(pancuran) dan membuat penyimpanan air, kolam, waduk, bendungan (telaga). AA. Ketut Patera,SE.
sumber: mediahindu.net
MENGUAK MISTERI GAYATRI MANTRA MELALUI MEDITASI
Om bhur bhuvah svah,
tat savitur varenyam,
bhargo devasya dhimahi,
dhiyo yo nah pracodayat.
artinya:
Oh cahaya bersinar yang telah melahirkan semua loka atau dunia kesadaran, O Tuhan yang muncul melalui sinarnya matahari sinarilah budi kami.
Inilah makna dari mantra yang memiliki semua bija-mantra yang kesemuanya melambangkan dari kekuasaan Brahman dalam cahaya suciNya. Om melambangkan Tuhan, Bhur mewakili bumi, Bhuvah melingkupi semua bagian dari daerahnya dewata-dewata dan setengah dewata sampai kepada matahari. Sedangkan Svah mewakili dimensi alam ketiga yang diketahui dengan nama svargaloka dan semua loka-loka yang cemerlang dia atasnya.
Gayatri mantra ini mempunyai getaran sangat kuat sehingga seseorang dalam pencaran rohaninya apabila tulus mengucapkan Gayatri mantra ini akan membawa
kepada pencerahan bathin. Banyak buku yang mengulas bagaimana kehebatan dari Gayatri mantram tersebut, namun tidak ada guru yang bisa memberikan pelajaran secara sistematis sehingga tidak ada pegangan yang kuat bagi murid-murid untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.
Gayatri mantram pada dasarnya bekerja secara otomatis dalam kesadaran rohani manusia. Ini di sebabkan mantram tersebut mewakili dari setiap elemen dasar
manusia dan alam.
Manusia memiliki tiga bagian badan yaitu badan fisik, badan energy (aura atau cahaya) dan badan roh (atma) ketiga bagian badan ini saling terkait satu sama
lainnya. Badan fisik berhubungan dengan napas dan prana, dan badan roh berhubungan dengan kesadaran Brahman.
Dijaman yang serba tidak pasti ini, banyak sekali bermunculan suatu masalah dalam kehidupan seperti contoh agama, ekonomi, sosial dan lain-lain dan yang
lebih parah lagi adalah banyaknya kasus penyakit. Tidak bisa disangkal lagi bahwa jaman ini materi menjadi tujuan yang paling utama, karena materi bagi seseorang menjajanjikan sebuah kebahagiaan.
Karena pencitraan yang sangat kuat ini, banyak orang pada jaman sekarang melakukan perbuatan yang berorientasi pada harta, segala cara pun dilakukan
asalkan terpenuhi nafsunya serta ambisinya. Tidak di dunia ekonomi saja terjadi seperti itu, di dunia energy pun banyak orang menggunakan kekuatan mistik
hitam untuk mencelakai secara halus, ini terlepas dari percaya atau tidak dengan hal ilmu hitam. Banyak bermunculan duku-dukun serta paranormal yang
menjajanjikan serta menjual berbagai macam kebolehan serta asesories untuk kedigjayaan atau kesaktian. Apabila tidak kuat iman, bisa dipastikan jaman
sekarang akan menjadi budak dari sekian pencitraan yang mencekam dalam kehidupan ini.
Lalu haruskah kita lari dari kehidupan ini dan mengasingkan diri untuk pergi ke hutan atau gua dan apakah kita mengambil jalan singkat bunuh diri?
Kedua-duanya adalah jalan yang konyol, kita harus menghadapi gelombang badai tersebut, namun dengan cara yang sangat halus serta bijak.
Apa yang disebut dengan suara karena kita mempunyai otak serta indra mata. Anadaikan saja seseorang buta dan tuli sejak lahir pasti baginya dunia ini tidak
ada, inilah yang disebut dengan ikatan indra dengan alam sementa. Untuk bisa terhindar dari masalah tersebut, tidada jalan lain kecuali mencari masalah
itu jauh ke dalam hati dan pikiran sebab di sanalah kemelut itu bercokol.
MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA
Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi
pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih(tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.
Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari
terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk
malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan
terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.
Tambahan:
Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.
TEORI MEDITASI
Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra "
OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah"
ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima
kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.
Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram
" OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya
dimahi, dhiyo yo nah pracodayat"
dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.
Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan
dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta
tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy,
rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.
Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan "pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran
selain getaran halus dari Gayatri mantra.
TIPS
Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.
sumber: http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1277.htm
tat savitur varenyam,
bhargo devasya dhimahi,
dhiyo yo nah pracodayat.
artinya:
Oh cahaya bersinar yang telah melahirkan semua loka atau dunia kesadaran, O Tuhan yang muncul melalui sinarnya matahari sinarilah budi kami.
Inilah makna dari mantra yang memiliki semua bija-mantra yang kesemuanya melambangkan dari kekuasaan Brahman dalam cahaya suciNya. Om melambangkan Tuhan, Bhur mewakili bumi, Bhuvah melingkupi semua bagian dari daerahnya dewata-dewata dan setengah dewata sampai kepada matahari. Sedangkan Svah mewakili dimensi alam ketiga yang diketahui dengan nama svargaloka dan semua loka-loka yang cemerlang dia atasnya.
Gayatri mantra ini mempunyai getaran sangat kuat sehingga seseorang dalam pencaran rohaninya apabila tulus mengucapkan Gayatri mantra ini akan membawa
kepada pencerahan bathin. Banyak buku yang mengulas bagaimana kehebatan dari Gayatri mantram tersebut, namun tidak ada guru yang bisa memberikan pelajaran secara sistematis sehingga tidak ada pegangan yang kuat bagi murid-murid untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.
Gayatri mantram pada dasarnya bekerja secara otomatis dalam kesadaran rohani manusia. Ini di sebabkan mantram tersebut mewakili dari setiap elemen dasar
manusia dan alam.
Manusia memiliki tiga bagian badan yaitu badan fisik, badan energy (aura atau cahaya) dan badan roh (atma) ketiga bagian badan ini saling terkait satu sama
lainnya. Badan fisik berhubungan dengan napas dan prana, dan badan roh berhubungan dengan kesadaran Brahman.
Dijaman yang serba tidak pasti ini, banyak sekali bermunculan suatu masalah dalam kehidupan seperti contoh agama, ekonomi, sosial dan lain-lain dan yang
lebih parah lagi adalah banyaknya kasus penyakit. Tidak bisa disangkal lagi bahwa jaman ini materi menjadi tujuan yang paling utama, karena materi bagi seseorang menjajanjikan sebuah kebahagiaan.
Karena pencitraan yang sangat kuat ini, banyak orang pada jaman sekarang melakukan perbuatan yang berorientasi pada harta, segala cara pun dilakukan
asalkan terpenuhi nafsunya serta ambisinya. Tidak di dunia ekonomi saja terjadi seperti itu, di dunia energy pun banyak orang menggunakan kekuatan mistik
hitam untuk mencelakai secara halus, ini terlepas dari percaya atau tidak dengan hal ilmu hitam. Banyak bermunculan duku-dukun serta paranormal yang
menjajanjikan serta menjual berbagai macam kebolehan serta asesories untuk kedigjayaan atau kesaktian. Apabila tidak kuat iman, bisa dipastikan jaman
sekarang akan menjadi budak dari sekian pencitraan yang mencekam dalam kehidupan ini.
Lalu haruskah kita lari dari kehidupan ini dan mengasingkan diri untuk pergi ke hutan atau gua dan apakah kita mengambil jalan singkat bunuh diri?
Kedua-duanya adalah jalan yang konyol, kita harus menghadapi gelombang badai tersebut, namun dengan cara yang sangat halus serta bijak.
Apa yang disebut dengan suara karena kita mempunyai otak serta indra mata. Anadaikan saja seseorang buta dan tuli sejak lahir pasti baginya dunia ini tidak
ada, inilah yang disebut dengan ikatan indra dengan alam sementa. Untuk bisa terhindar dari masalah tersebut, tidada jalan lain kecuali mencari masalah
itu jauh ke dalam hati dan pikiran sebab di sanalah kemelut itu bercokol.
MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA
Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi
pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih(tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.
Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari
terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk
malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan
terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.
Tambahan:
Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.
TEORI MEDITASI
Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra "
OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah"
ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima
kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.
Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram
" OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya
dimahi, dhiyo yo nah pracodayat"
dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.
Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan
dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta
tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy,
rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.
Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan "pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran
selain getaran halus dari Gayatri mantra.
TIPS
Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.
sumber: http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1277.htm
Langganan:
Komentar (Atom)